Oleh: Yoga Samsu
Dua bulan lalu saya meeting dengan salah satu direksi klien. Bisnisnya terkait kargo ekspor-impor. Katanya:
“Gara-gara Purbaya, revenue kita turun.”
Lho, kok bisa?
Ceritanya begini. Dulu, izin keluar barang dari Bea Cukai itu tidak pasti. Kadang dua hari, kadang dua minggu. Dan selama barang menunggu, kontainernya tetap disewa. Gudangnya tetap dibayar. Semakin lama izin keluar, semakin besar tagihannya.
Buat importir, itu biaya. Buat klien saya, itu pendapatan. Namanya pendapatan pengendapan.
Sejak Purbaya jadi Menteri Keuangan, izin keluar satu-dua hari. Barang tidak sempat mengendap. Pendapatan pengendapan pun ikut lenyap.
Jadi ada bisnis yang hidup dari lambatnya negara. Dan ketika negaranya mendadak cepat, bisnis itu kehilangan napas.
Tapi sejak Senin, 14 September 2026, Purbaya diganti. Pagi masih rapat di DPD, bicara soal ekonomi yang tetap terjaga. Sore, Suahasil Nazara dilantik di kursinya.
Versus
Kalau dilihat lagi, setahun Purbaya itu seperti kartu pertandingan tinju. Hampir tiap bulan ada lawan baru.
Purbaya vs Whoosh. Oktober 2025, dia bilang APBN tidak akan dipakai membayar utang kereta cepat, yang cicilannya sekitar Rp2 triliun per tahun. Danantara sudah terima dividen BUMN sekitar Rp80 triliun, ya pakai itu. Komisi XI DPR sempat membela: sudah tepat. Tapi Luhut membalas: siapa yang minta APBN? Lalu di sidang kabinet, keduanya dikabarkan tidak saling sapa.
Purbaya vs MBG. Belum sebulan menjabat, dia colek Badan Gizi Nasional. Serapan anggaran Makan Bergizi Gratis baru Rp13,2 triliun dari Rp71 triliun. Dia minta Kepala BGN jumpa pers tiap bulan, dan dia akan duduk di sebelahnya. Anggaran yang nganggur, katanya, bisa dialihkan. Terakhir, dia mau sunat anggaran MBG.
Purbaya vs Bea Cukai. Ini yang paling keras. Desember 2025, dia beri ultimatum: kalau sampai September 2026 tidak berubah, Ditjen Bea Cukai dibekukan. 16 ribu pegawai dirumahkan, fungsinya dialihkan ke perusahaan surveyor Swiss. Dia sidak Tanjung Priok, menemukan 3.100 kontainer numpuk, dan menolak alasan anak buahnya sendiri. Empat hari sebelum dicopot, dia masih merombak sekitar 50 pejabat dan 350 staf.
Purbaya vs Danantara. Karena duit APBN cekak membiayai nafsu program prioritas, Purbaya meminta setoran dividen Danantara. Jumlahnya lumayan: sekitar 120 triliun. Konon katanya ini yang membuat Purbaya harus jadi “Poorbaya”. Kasihan karena diganti, saat sedang semangat membenahi negeri.
Purbaya ingin mengubah, tapi malah dia yang harus berpisah.
Salah pendekatan perubahan?
Dua Cara Mengubah
Di teori manajemen: perubahan itu ada jenisnya, dan tiap jenis ada caranya.
Yang pertama perubahan inkremental. Pelan, bertahap, tetesan air ke batu. Tidak ada yang merasa terancam, dan sepuluh tahun kemudian orang baru sadar batunya sudah berlubang.
Yang kedua perubahan transformasional. Cepat, radikal, membongkar struktur. Ini yang dipilih Purbaya. Bukan menambal Bea Cukai, tapi mengancam membubarkannya.
Keduanya sah. Yang membedakan sukses dan gagal bukan jenisnya, tapi urutannya.
Kurt Lewin merumuskannya tahun 1947 dalam tiga langkah: unfreeze, change, refreeze. Cairkan dulu, ubah, lalu bekukan lagi jadi kebiasaan baru.
John Kotter memperincinya jadi delapan: ciptakan rasa genting, bangun koalisi, rumuskan visi, komunikasikan, singkirkan penghalang, ciptakan kemenangan kecil, konsolidasi, tanamkan di budaya.
Coba cocokkan ke setahun Purbaya.
Rasa genting? Ada, berlebih malah. Visi? Jelas: negara yang cepat dan bersih. Kemenangan kecil? Izin satu-dua hari itu kemenangan, tanya saja klien saya.
Yang bolong ada di langkah kedua dan terakhir. Koalisi dan budaya.
Dia melawan Luhut, melawan BGN, melawan institusinya sendiri, hampir bersamaan. Kotter bilang perubahan besar butuh koalisi yang cukup kuat untuk menahan serangan balik. Purbaya justru menciptakan koalisi yang cukup kuat untuk menyerang balik.
Dan refreeze tidak pernah terjadi. Setahun terlalu pendek untuk membekukan kebiasaan baru di organisasi berumur puluhan tahun. Begitu tangan yang mencairkan dicabut, esnya membeku kembali ke bentuk semula.
Machiavelli sudah memperingatkan lima ratus tahun lalu. Dalam Il Principe dia menulis: tidak ada yang lebih sulit dan lebih berbahaya daripada memperkenalkan tatanan baru. Si pembaru dimusuhi semua orang yang untung dari tatanan lama, dan hanya dibela setengah hati oleh orang yang mungkin untung dari tatanan baru.
Klien saya adalah “semua orang yang untung dari tatanan lama”. Dan dia bukan koruptor. Dia cuma pengusaha yang bisnisnya kebetulan tumbuh di celah yang lambat. Bayangkan berapa banyak yang seperti dia. Di pelabuhan, di dapur MBG, di ruang sidang kabinet.
Perubahannya terlalu drastis, terlalu cepat, dan ke terlalu banyak arah sekaligus. Bagi sistem, itu bukan reformasi. Itu ancaman.
Dan sistem, seperti tubuh, punya kekebalan.
Jadi?
Apakah ini berarti perubahan harus selalu pelan?
Tidak. Kadang batu memang harus dipalu, bukan ditetesi.
Tapi orang yang memalu harus tahu satu hal: begitu palu diayunkan, bukan cuma batunya yang bereaksi. Tangan kita juga akan bergetar.
Dan ada pelajaran lain, buat kita yang pernah dicopot, di-PHK, atau di-reshuffle dari mana pun.
Jabatan itu wadah. Kompetensi itu isi.
Diamond is a diamond, di mana pun dia berada. Di jari menteri, atau di dalam laci.
Enjoy your layoff time, Pak!
Festina lente.
(Bergegaslah, pelan-pelan.)
Yoga Samsu — Pelayan Tuhan yang doyan gorengan.